Tiga puisi pendek di hari minggu

Kepada penyair Neogie Arur
By ; Husni Hamisi
Memo
Adakah yang kau temukan pada koran
hari ini selain abjad dingin berpilin hujan yang pandai
menyulap otak kita menjadi puntung-puntung rokok, sesudah saripati
tembakau kita di lahap habis, duhai kawan.
jika ada, beritahukanlah
aku ingin membelinya sejuta exlempar buat di olah menjadi lolypop di lidah
anak-anak hujan yang makin disesaki kosakata tabrak, tembak, dan tewas di pelor panas.
Biola Mata Hitam
KUKISAHKAN kembali
puisi yang kusampirkan di matamu hari itu
seorang anak sedang meggesek biola di sebuah makam
sembari mengiringi lagu " mother how are you to day".
Tak semua bulir hujan perlu kau salahkan
serupa kelindan hatiku saat menatap
irama bacin "smoke on the water"
tumpah di bola hitam matamu.
Di Liang Telinga
RIBUAN kata singgah disini, liang telingaku
tempat kau menitip kecupan, halte bis tua
untuk berteduh para penjaja koran bekas
orang sepertimu.
senjakala bila hati kita mulai memuai
sulur-sulur rindu, kau akan menemukan
aku disini, kata-kata yang memilih bermukim
di liang telingamu.
' Oktober 2010
Episode Maut I

*Kolaborasi Neogie Arur dan Arther Panther Olii
malam bertabur bunga
helai demi helai kamboja luruh,
sedangkan gagak mengintai rusuh
jasad mana terlelap mata
dosa tak lagi sembunyi muka
berjatuhan luruh dalam gulita,
sedangkan darah hanyalah hitam
jiwa mana menakar dendam
o, sayap-sayap resah
sampai kapan kau mengepak
sedang ajal di ujung tanah
merah tembaga meminta di takik
o, juntai-juntai kalut
bilakah tiba masa kau merajam
iringi napas sirna terenggut
bening takdir tak pinta salam
memejam mata di ujung subuh
mengecap peluh mengais teduh
meluruh batin kala mulut berseru ;
“inallilahi wa inailaihi roji’un”
Batusangkar-Gorontalo, 03102010.
sejak sajak tersangkut di nebula

sejak sajak tersangkut di nebula
: Olan Sanseviera
Apalah pangkal dari gagal hati, untuk mengeja bait demi bait yang di bisikkan oleh muasal alam sebelum cahaya bernama kheos, patah semakin berderak retak lidah ini seperti di cambuk oleh lintar zeus yang sempat hilang beberapa bayang silam, dan itulah ragu serupa arphodite yang mengigil di undakan altar kehilangan sayap untuk mengepak cinta, terbang ke sebalik cosmos, tempat panah-panah amor tersesat dalam rengkuhan nebula. Ah, inilah pangkal gagal untuk mengeja, bagaimana bisa membaca sedangkan busurnya tak bertemu anak panah, sajakku tersangkut di nebula !
Malam sakaratul
Malam sakaratul
malam telah tergelincir
menuju subuh menjelang takbir
aku menghitung uang
sementara di luar terdengar lolong anjing
berjingkat tengkuk naik tegak
bertanya-tanya siapakah tergeletak
mengerang payah, menarik nafas
dalam sakaratul berombak tiada putus
Izrail, sudah datangkah lagi Engkau
jika kau ada menatap aku
tolong beri siar kabar rahasia
di waktu mana lauh mahfudz menghapus nama
: Aku
Arti
tergeletak sudah mati
oleh secawan yang diteguk entah berapa malam
terseduh embun, mendidih kabut menyisir pagi
meniadakan hati bercerita semua takdir
akulah ilalang sepi
terpijak surya kala pagi
akulah pena sunyi
membalut luka tiada henti
akulah perih yang tak berkawan
mengucur dahaga pada buaian







