Tampilkan postingan dengan label Kolaborasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolaborasi. Tampilkan semua postingan

Gelas Kosong

On Minggu, 10 Oktober 2010 2 komentar






Denting kaca menitah

Biaskan bayang mula kisah

Tentang diri merumpah ruah

Menggenang gelas segumpal darah


Lirih bayu memijah ruang

Sekat aku, diri, jiwa merambang

Bibir gelas mencandu berjuta kenang

Tentang separuh hati sayang menghilang


Semakin lirih perih menoreh

Semakin mengeping puing beling

Sudah luluh pecah meregang

Setiap ruang menyisa kosong


Tarian kami lemah menunjuk jemari

Deraikan airmata tangisi tiada isi

Sampai kapan kami mengaisngais hati?

Sedang kami sama kosongkan diri,

Ilahi


Ctt : by Nu dan Yazid Musyafa

Menakar makna lewat alam

On Kamis, 07 Oktober 2010 0 komentar

Menakar makna lewat alam

By :

Olan Sanseviera

Nu


Perjalanan hidup ini amat melelahkan bukan, dengan apa hendak aku ceritakan, jikalau seribu penyair seudah menjajah serta memperkosa alam dengan candu yang mereka miliki, dan itu sudah membuat nyali pena ini bukan hanya ciut tapi menggigil walau rupa puncak himalaya jauh dari mata, tapi adalah mual hati ini melebihi geramnya perut-perut gunung untuk muntahkan magmanya.

Ceritakanlah bagaimana gununggunung menitip magma pada seribu kalimat yang terukir dalam dinding ruang gigil para penyair. Sebab barangkali ada beberapa tandatanya yang terselip diantara peluh decak bibir penanya. Dari untaian garis yang rapi menyusun mekarnya kelopak hati, ada sungai yang terbentuk dari kalimat yang kau kirim sebagai penggugah rasa. Kita maknai maklumat waktu sebagai pengembaraan yang menggiring musim dihalaman yang datar. Agar angin yang mengelilingi haus rongga batin sertamerta pergi bersama kabut gelap yang mendiami pelataran sunyi. Dari sini mengalirlah warna pelangi yang diamnya begitu kita rindukan.

Terlalu banyak hendak di kisahkan tentang perjalanan ini kawan, sehingga lelah dan payah ini menjadi acuh dan jenuh menafsirkan semua tanda yang di beri alam, lantas izinkanlah aku menekur sejenak dalam belukar laku diri, bukan mengenang tapi mencoba menghitung rugi dan laba yang telah di tanggung badan, dan memang aku bukan penyair tapi penjudi, yang tak pernah bertaruh untuk sejengkal nafsu, tapi hanya nama yang di sematkan untuk hilangkan selendang angkuh itu yang tiada henti mengintai.

Menghitung berapa banyak lembar malam yang kau renangi, samudra mendekat mencurahkan renungan pada ikat malammu. Hamparan tasbih yang kau lontarkan pada langit mengisyaratkan betapa mesra bintangbintang simpuh pada belaian sungkur sujudmu. Kita memulai warna yang tertandai sebagai tonggak untuk memudarkan buramnya waktu yang mengelilingi peradaban. Ada hikmah melayari malam umpama sampan yang mengapung ditengah badai. Dan senyum adalah sebuah awal yang mesti di gapai. Senyum yang tercantum pada bibir ayah bunda yang mewakili keridhoanNya. Mari kita ikuti garis tepi cakrawala yang ufuknya adalah sampul buku sebuah tuntunan. Menuju keindahan yang hakiki.

Di hentian ini, lemah semakin patah memapah lidah untuk berkata-kata lagi, baiklah kawan, mari kita segel semua rasa pada Sang pemilik aksara, ikhlaskan hati, jernihkan fikir, agar semua musim, serta segala cuaca tak menjadi laknat, menyumpah kita di setiap hembusan nafas, selaksa doa aku tuturkan di hariban mahligai kalbu, harap satu, yakni selalu istiqomahkan hati ini dalam menyuluh api cinta padaNya.

Puisi Penawar Luka Waktu

On Selasa, 05 Oktober 2010 2 komentar


~ puisi penawar luka waktu ~

Oleh : Neogie Arur dan Arganita W.







izinkanlah pada pagi

mengurai kisah hati

tentang bungabunga runtuh

helai demi helainya luruh


tentang lembarlembar kasih

terukir di bukubuku jemari

tergenggam merah jantung

kuambil dari belah dadamu


maka lihatlah sejenak

tergeletak sudah semua

di mandikan sajaksajak

basah mengaliri telaga mata

tak kupalingkan muka

demi seratserat asmara

sembuhkan luka terdalam

terkoyak rindu mendendam


biarlah cabik lalu meruyak

lukaluka di waktu siang merajuk

bila waktu senja nanti

kau aku peluk dengan sebaris puisi




Lenggang Sunyi Kasidah Sepi

On 0 komentar






Lihatlah kerling langit yang lening, derit kata yang melunta.

Di sanalah, kau dan aku, bersahutan tanpa sentuhan dan perjumpaan.

Kita hanya hadir dalam gulir ingatan yang deras pada napas hujan dan hempas bayangan.

Lihatlah jua seringai bumi yang sunyi, detak waktu yang menjemu.

Di sanalah, kau dan aku bersenandung tanpa kidung dan tembang.


Kita bermula dalam kenangan yang melayangkan kicau burung dan tikaman lengang

Keberanianku ditelan kabut

Jauh tertinggal, lenguh sesal tersengal seperti temali ajal di leher kekal

Aku seperti telah kehilanganmu sebelum sempat menjumpaimu


Telah muram mimpi dalam kasidah sepi ketika wajah tengadah menerjemahkan lelah dan kalah.

Akan kulipat jarak serta kuarungi waktu untuk menyampaikan pesan kenari

Yang tak henti menari di setiap mimpi mimpi.


Aku seperti cermin buram yang pecah di detik jarum jam,

menusuk, meluka, terkapar hingga tafsirkan selaksa sunyi.


Aku menafsirmu dalam graffiti kehadiran yang gemetar di permukaan kenyataan.

Disana, kita mungkin mesti percaya sesuatu terpaksa kita lepas, terpaksa kita patahkan.


Namun bukankah kita telah demikian menubuh?

Ada banyak hal yang telah aku ucapkan.

Banyak hal pula yang telah ku anggap sebagai sebuah kekalahan.


Dan denting hening, lengang nan panjang telah memenjara semua kata.

Tak ada liukan, tak sisa lagi tikungan nan curam tempat menabur doa, jua semua musim

Bungkam hanya diam.

Ku lelah dalam payah, sunyi memartikan semua.

Jangan tanya.

Sunyi sudah.



Me and okky

Episode Maut I

On Minggu, 03 Oktober 2010 0 komentar


*Kolaborasi Neogie Arur dan Arther Panther Olii









malam bertabur bunga

helai demi helai kamboja luruh,

sedangkan gagak mengintai rusuh

jasad mana terlelap mata


dosa tak lagi sembunyi muka

berjatuhan luruh dalam gulita,

sedangkan darah hanyalah hitam

jiwa mana menakar dendam


o, sayap-sayap resah

sampai kapan kau mengepak

sedang ajal di ujung tanah

merah tembaga meminta di takik


o, juntai-juntai kalut

bilakah tiba masa kau merajam

iringi napas sirna terenggut

bening takdir tak pinta salam


memejam mata di ujung subuh

mengecap peluh mengais teduh

meluruh batin kala mulut berseru ;


“inallilahi wa inailaihi roji’un”



Batusangkar-Gorontalo, 03102010.

KEMILAU KEMUNING SENJA

On Selasa, 23 Februari 2010 0 komentar



KEMILAU KEMUNING SENJA

" di ujung kaki langit senja kuterpana.
kemuning berpendar cahaya
sepucuk surat bersulam mutiara
pesona warna hati mencinta, pulanglah sayang !"


kekasih
kutuliskan surat ini dengan getar
kesiap sunyi merangkai detak nan bergejolak
getar, detak, birama
bukankah engkau yang membangkitkannya?

fajar pun bersurut langkah,
dan gemuruh semestapun cemburu
melihat simpul-simpul tali surga yang terajut,
terbuka seiring kecup rintih jiwa

cintaku kekasih,
laksana embun yang meresap ke akar rumput
lepas malam ia pun akan muncul
dengan ikhlas merayapi sepi
dan menepi ke sisi pagi

untaian kata seindah kemilau intan
membawa rasaku terbang melayang
tanpa sayap ;
hinggap di tengah padang ilalang

lalu,
kucintai engkau tanpa mengenal cuaca
pagi hingga petang, kemarau hingga penghujan
jarum jam nan rontok
lembaran almanak yang gugur
helaian rambut memutih
biarkan semua menjadi berarti

kekasih,
rinduku telah terpahat di segala cuaca
meleburkan segenap rasa.
hingga kemilau
kemuning
senja setia dengan titahnya
pulanglah sayang !
===============================

NB:OKKY @ NU