Nazam Sunyi

Nazam Sunyi
Menazamkan sunyi
ke geliat kata-kata terangsang api
kebencian
Padamlah seketika
epitaf-epitaf penuh caci
kembali ke estetika seni
sesungguhnya
serupa Rendra membacakan
suarasuara nurani
ke hadap kelaliman di mata
Aksara bunga
elok rupawan kelopaknya
namun menyimpan seribu duri
yang diam-diam menikam
alam bawah sadar
ah, aku tiba-tiba ingin
turun ke jalan-jalan
membawa keranda dan kafan
untuk mereka yang telah menjadi
bangkai
agar mereka tersentak
serta tersadar dari puncak
tempat mereka berpijak
dari kepongahan sumbang
serta agar hujan dan kemarau
berdansa bersama
di ketika musim panen
petani-petani desa
namun ingin tinggallah mimpi
selalu mati di ujung pedang takbir
seiring suria terjaga
maka tumbuhlah benih-benih
baru, serupa mekarnya cendawan
di kayu-kayu malang melintang
di terjang banjir bandang
sunyi tinggallah sendiri
meraut kata kembali
bila bencana kembali
datang
Sungai
Rindu Kandas
Gelas Kosong

Denting kaca menitah
Biaskan bayang mula kisah
Tentang diri merumpah ruah
Menggenang gelas segumpal darah
Lirih bayu memijah ruang
Sekat aku, diri, jiwa merambang
Bibir gelas mencandu berjuta kenang
Tentang separuh hati sayang menghilang
Semakin lirih perih menoreh
Semakin mengeping puing beling
Sudah luluh pecah meregang
Setiap ruang menyisa kosong
Tarian kami lemah menunjuk jemari
Deraikan airmata tangisi tiada isi
Sampai kapan kami mengaisngais hati?
Sedang kami sama kosongkan diri,
Ilahi
Ctt : by Nu dan Yazid Musyafa
Menakar makna lewat alam
Menakar makna lewat alamBy :
Olan Sanseviera
Nu
Perjalanan hidup ini amat melelahkan bukan, dengan apa hendak aku ceritakan, jikalau seribu penyair seudah menjajah serta memperkosa alam dengan candu yang mereka miliki, dan itu sudah membuat nyali pena ini bukan hanya ciut tapi menggigil walau rupa puncak himalaya jauh dari mata, tapi adalah mual hati ini melebihi geramnya perut-perut gunung untuk muntahkan magmanya.
Ceritakanlah bagaimana gununggunung menitip magma pada seribu kalimat yang terukir dalam dinding ruang gigil para penyair. Sebab barangkali ada beberapa tandatanya yang terselip diantara peluh decak bibir penanya. Dari untaian garis yang rapi menyusun mekarnya kelopak hati, ada sungai yang terbentuk dari kalimat yang kau kirim sebagai penggugah rasa. Kita maknai maklumat waktu sebagai pengembaraan yang menggiring musim dihalaman yang datar. Agar angin yang mengelilingi haus rongga batin sertamerta pergi bersama kabut gelap yang mendiami pelataran sunyi. Dari sini mengalirlah warna pelangi yang diamnya begitu kita rindukan.
Terlalu banyak hendak di kisahkan tentang perjalanan ini kawan, sehingga lelah dan payah ini menjadi acuh dan jenuh menafsirkan semua tanda yang di beri alam, lantas izinkanlah aku menekur sejenak dalam belukar laku diri, bukan mengenang tapi mencoba menghitung rugi dan laba yang telah di tanggung badan, dan memang aku bukan penyair tapi penjudi, yang tak pernah bertaruh untuk sejengkal nafsu, tapi hanya nama yang di sematkan untuk hilangkan selendang angkuh itu yang tiada henti mengintai.
Menghitung berapa banyak lembar malam yang kau renangi, samudra mendekat mencurahkan renungan pada ikat malammu. Hamparan tasbih yang kau lontarkan pada langit mengisyaratkan betapa mesra bintangbintang simpuh pada belaian sungkur sujudmu. Kita memulai warna yang tertandai sebagai tonggak untuk memudarkan buramnya waktu yang mengelilingi peradaban. Ada hikmah melayari malam umpama sampan yang mengapung ditengah badai. Dan senyum adalah sebuah awal yang mesti di gapai. Senyum yang tercantum pada bibir ayah bunda yang mewakili keridhoanNya. Mari kita ikuti garis tepi cakrawala yang ufuknya adalah sampul buku sebuah tuntunan. Menuju keindahan yang hakiki.
Di hentian ini, lemah semakin patah memapah lidah untuk berkata-kata lagi, baiklah kawan, mari kita segel semua rasa pada Sang pemilik aksara, ikhlaskan hati, jernihkan fikir, agar semua musim, serta segala cuaca tak menjadi laknat, menyumpah kita di setiap hembusan nafas, selaksa doa aku tuturkan di hariban mahligai kalbu, harap satu, yakni selalu istiqomahkan hati ini dalam menyuluh api cinta padaNya.
Puisi Penawar Luka Waktu

~ puisi penawar luka waktu ~
Oleh : Neogie Arur dan Arganita W.
izinkanlah pada pagi
mengurai kisah hati
tentang bungabunga runtuh
helai demi helainya luruh
tentang lembarlembar kasih
terukir di bukubuku jemari
tergenggam merah jantung
kuambil dari belah dadamu
maka lihatlah sejenak
tergeletak sudah semua
di mandikan sajaksajak
basah mengaliri telaga matatak kupalingkan muka
demi seratserat asmara
sembuhkan luka terdalam
terkoyak rindu mendendambiarlah cabik lalu meruyak
lukaluka di waktu siang merajuk
bila waktu senja nanti
kau aku peluk dengan sebaris puisi







