Jakarta

On Minggu, 30 Januari 2011 0 komentar





Jakarta

Bocah-bocah kecil di tepi rel kereta api, mereka membangun miniatur hujan dalam imajinya, menyusun setiap rintik yang jatuh, jadikan tugu di otak untuk pengingat bahwa mereka mereka tinggal di kota banjir

Nazam Sunyi

On 0 komentar








Nazam Sunyi

Menazamkan sunyi

ke geliat kata-kata terangsang api

kebencian


Padamlah seketika

epitaf-epitaf penuh caci

kembali ke estetika seni

sesungguhnya


serupa Rendra membacakan

suarasuara nurani

ke hadap kelaliman di mata


Aksara bunga

elok rupawan kelopaknya

namun menyimpan seribu duri

yang diam-diam menikam

alam bawah sadar


ah, aku tiba-tiba ingin

turun ke jalan-jalan

membawa keranda dan kafan

untuk mereka yang telah menjadi

bangkai


agar mereka tersentak

serta tersadar dari puncak

tempat mereka berpijak

dari kepongahan sumbang


serta agar hujan dan kemarau

berdansa bersama

di ketika musim panen

petani-petani desa


namun ingin tinggallah mimpi

selalu mati di ujung pedang takbir

seiring suria terjaga


maka tumbuhlah benih-benih

baru, serupa mekarnya cendawan

di kayu-kayu malang melintang

di terjang banjir bandang


sunyi tinggallah sendiri

meraut kata kembali

bila bencana kembali

datang

Sungai

On Jumat, 15 Oktober 2010 0 komentar














Padamu sungai
akan dimana muara
bersemi menyalami
setiap mimpi
disepinya hari
menghilir luruh asrusmu
meng-abu dhabi

Lekas mata air
bersanjungan pernik kata
bening tarinya
merias indah
di cadar cakrawala

meninggi di eifel, menjulang
kokoh pada piramida
dan kembali aku lukis
biru sungaimu


By Afrilia Kelana Utami

Rindu Kandas

On Kamis, 14 Oktober 2010 0 komentar


Senja menjelaga jingga
camar lalu lalang
ketika kau dan aku berdendang
nyanyi surya, menyelam ke samudra

Sungguh belumlah puas
aku pada kau meremas
lunak hatimu kapas
tapi adalah gerimis,
tiba-tiba datang
hingga petang berpulang

Gelas Kosong

On Minggu, 10 Oktober 2010 2 komentar






Denting kaca menitah

Biaskan bayang mula kisah

Tentang diri merumpah ruah

Menggenang gelas segumpal darah


Lirih bayu memijah ruang

Sekat aku, diri, jiwa merambang

Bibir gelas mencandu berjuta kenang

Tentang separuh hati sayang menghilang


Semakin lirih perih menoreh

Semakin mengeping puing beling

Sudah luluh pecah meregang

Setiap ruang menyisa kosong


Tarian kami lemah menunjuk jemari

Deraikan airmata tangisi tiada isi

Sampai kapan kami mengaisngais hati?

Sedang kami sama kosongkan diri,

Ilahi


Ctt : by Nu dan Yazid Musyafa

Menakar makna lewat alam

On Kamis, 07 Oktober 2010 0 komentar

Menakar makna lewat alam

By :

Olan Sanseviera

Nu


Perjalanan hidup ini amat melelahkan bukan, dengan apa hendak aku ceritakan, jikalau seribu penyair seudah menjajah serta memperkosa alam dengan candu yang mereka miliki, dan itu sudah membuat nyali pena ini bukan hanya ciut tapi menggigil walau rupa puncak himalaya jauh dari mata, tapi adalah mual hati ini melebihi geramnya perut-perut gunung untuk muntahkan magmanya.

Ceritakanlah bagaimana gununggunung menitip magma pada seribu kalimat yang terukir dalam dinding ruang gigil para penyair. Sebab barangkali ada beberapa tandatanya yang terselip diantara peluh decak bibir penanya. Dari untaian garis yang rapi menyusun mekarnya kelopak hati, ada sungai yang terbentuk dari kalimat yang kau kirim sebagai penggugah rasa. Kita maknai maklumat waktu sebagai pengembaraan yang menggiring musim dihalaman yang datar. Agar angin yang mengelilingi haus rongga batin sertamerta pergi bersama kabut gelap yang mendiami pelataran sunyi. Dari sini mengalirlah warna pelangi yang diamnya begitu kita rindukan.

Terlalu banyak hendak di kisahkan tentang perjalanan ini kawan, sehingga lelah dan payah ini menjadi acuh dan jenuh menafsirkan semua tanda yang di beri alam, lantas izinkanlah aku menekur sejenak dalam belukar laku diri, bukan mengenang tapi mencoba menghitung rugi dan laba yang telah di tanggung badan, dan memang aku bukan penyair tapi penjudi, yang tak pernah bertaruh untuk sejengkal nafsu, tapi hanya nama yang di sematkan untuk hilangkan selendang angkuh itu yang tiada henti mengintai.

Menghitung berapa banyak lembar malam yang kau renangi, samudra mendekat mencurahkan renungan pada ikat malammu. Hamparan tasbih yang kau lontarkan pada langit mengisyaratkan betapa mesra bintangbintang simpuh pada belaian sungkur sujudmu. Kita memulai warna yang tertandai sebagai tonggak untuk memudarkan buramnya waktu yang mengelilingi peradaban. Ada hikmah melayari malam umpama sampan yang mengapung ditengah badai. Dan senyum adalah sebuah awal yang mesti di gapai. Senyum yang tercantum pada bibir ayah bunda yang mewakili keridhoanNya. Mari kita ikuti garis tepi cakrawala yang ufuknya adalah sampul buku sebuah tuntunan. Menuju keindahan yang hakiki.

Di hentian ini, lemah semakin patah memapah lidah untuk berkata-kata lagi, baiklah kawan, mari kita segel semua rasa pada Sang pemilik aksara, ikhlaskan hati, jernihkan fikir, agar semua musim, serta segala cuaca tak menjadi laknat, menyumpah kita di setiap hembusan nafas, selaksa doa aku tuturkan di hariban mahligai kalbu, harap satu, yakni selalu istiqomahkan hati ini dalam menyuluh api cinta padaNya.

Puisi Penawar Luka Waktu

On Selasa, 05 Oktober 2010 2 komentar


~ puisi penawar luka waktu ~

Oleh : Neogie Arur dan Arganita W.







izinkanlah pada pagi

mengurai kisah hati

tentang bungabunga runtuh

helai demi helainya luruh


tentang lembarlembar kasih

terukir di bukubuku jemari

tergenggam merah jantung

kuambil dari belah dadamu


maka lihatlah sejenak

tergeletak sudah semua

di mandikan sajaksajak

basah mengaliri telaga mata

tak kupalingkan muka

demi seratserat asmara

sembuhkan luka terdalam

terkoyak rindu mendendam


biarlah cabik lalu meruyak

lukaluka di waktu siang merajuk

bila waktu senja nanti

kau aku peluk dengan sebaris puisi